Semua Ikan di Langit

Semua Ikan di Langit by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie Tentang mencintai tanpa harus sepenuhnya mengerti Menurutku, Semua Ikan di Langit bukan buku yang harus dibaca dengan niat “memahami”. Buku ini lebih cocok dibaca sambil membiarkan perasaan kita bekerja. Ada banyak bagian yang tidak memberi penjelasan, dan justru di situlah aku merasa buku ini bekerja paling kuat. Tokoh “Beliau” hadir tanpa identitas yang jelas. Tidak ada nama, tidak ada wujud, tidak ada penjelasan pasti. Awalnya ini terasa membingungkan, tapi lama-lama aku menyadari: mungkin memang tidak semua hal perlu diberi nama. Mungkin ada hubungan-hubungan tertentu yang cukup dijalani dengan mengingat dan mencintai, tanpa perlu tahu segalanya. Dari buku ini aku merasa diingatkan bahwa Tuhan menyayangi manusia jauh sebelum manusia itu sendiri ada. Bahwa ketika kita mengingat-Nya—dalam bentuk apa pun—Dia akan mengingat kita dengan cara yang jauh lebih besar. Kebahagiaan yang digambarkan di buku ini bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi seperti cahaya kecil yang perlahan mengisi ruang kosong di dalam diri. Bagian yang paling membekas buatku adalah ketika buku ini seolah berkata bahwa Tuhan tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana kita menyebut-Nya. Nama, sebutan, bahkan cara kita mendekat, bukan hal utama. Yang paling penting adalah rasa cinta itu sendiri. Aku jadi berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari cara paling benar untuk mencintai Tuhan, sampai lupa merasakan cintanya itu sendiri. Ketidakhadiran Tuhan dalam wujud nyata juga digambarkan bukan sebagai jarak, melainkan perlindungan. Menurutku ini pemikiran yang sangat manusiawi. Jika Tuhan benar-benar menampakkan diri, manusia tidak akan sanggup. Kita akan bingung, takut, mungkin bahkan hancur. Maka, diam dan jarak itu justru adalah bentuk kasih sayang. Buku ini juga berbicara tentang kehilangan dengan cara yang jujur dan menyakitkan. Kehilangan digambarkan sebagai rasa sakit yang melumpuhkan, membuat napas terasa berat, dan tubuh sulit bergerak. Tidak ada usaha untuk memperindah luka. Dan justru karena itu, aku merasa perasaan kehilangan di buku ini terasa sangat nyata. Setelah membaca Semua Ikan di Langit, aku tidak merasa menjadi lebih paham tentang Tuhan, hidup, atau kehilangan. Tapi aku merasa menjadi lebih tenang. Buku ini tidak memberi jawaban, hanya menemani. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

Pelukan Hangat yang Tak Terlihat

Pelukan Hangat yang Tak Terlihat Tujuh hari berlalu sejak sosok itu pergi. Waktu berjalan merangkak di rumah tua yang terletak jauh di dalam hutan. Halaman luas dengan taman bunga yang dahulunya dihiasi percakapan hangat kini tampak suram dengan daun kering dimana-mana. Aroma kesedihan tercium pekat, mengambang, membungkus sore yang tak pernah absen berkunjung. Di teras rumah, duduk seorang pria tua, Pram namanya, pada sebuah kursi goyang yang bergerak lambat. Punggungnya tak lagi tegap dan matanya tampak sayu menyiratkan kehilangan yang mendalam. Pram menghela nafas berat memperhatikan sekitar. Sejuta kenangan akhir-akhir ini dengan kejam menghujaninya, tanpa henti, membuatnya sesak. Perlahan mata tua itu terhenti pada sebuah kotak lebah yang berdiri membisu di bawah pohon mangga di pojok kebun yang mulai berantakan. Samar ingatannya kembali pada sore-sore hangat beberapa bulan lalu, saat Ia dan Anne— istrinya—memanen sisir madu bersama. Disela kegiatan mereka ada lelucon dan candaan garing yang dilontarkan Pram, anehnya itu selalu berhasil membuat istrinya tertawa bahkan tersenyum malu-malu sambil mencubit perut Pram pelan. Bayangan wajah Anne lagi-lagi terputar di kepala, menciptakan embun yang bergelantung disudut mata. Pria tua itu pelan memejamkan mata, embun itu luruh membasahi pipi yang telah renta dimakan waktu. Dalam keheningan dan mata yang masih terpejam, samar terdengar dengung lebah yang dibawa oleh semilir angin sore, membisikkan sesuatu yang entah bagaimana terdengar seperti suara seseorang yang sangat Ia rindukan. Lebah-lebah itu menyampaikan sebuah pesan untuknya. “Hai Pram, ini aku. Kau mengenali suara ku bukan? Atau jangan-jangan Kau sudah lupa?” Suara menyenangkan itu tertawa kecil, bergurau. “Jangan bersedih, Sayang. Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku di sini, dalam setiap dengung lebah yang kau dengar dan dalam aroma bunga yang kau hirup. Aku hanya berganti wujud— menjadi udara, menjadi cahaya pagi, menjadi aroma yang tak pernah hilang dari rumah ini—tapi percayalah aku selalu memelukmu. Aku akan menjadi penjagamu—tanpa wujud, tanpa suara, tapi selalu ada.” Air mata membanjiri wajah pria tua itu saat ia membuka mata. Suara yang hangat dan sangat Ia rindukan telah hilang. Ada rasa sesak sekaligus lega yang membuncah tak tertahankan, membuatnya runtuh tapi bangkit disaat yang bersamaan. Ia merasakan kehadirannya sekarang, sepasang tangan yang terlihat memeluknya erat. Dulu, istrinya adalah penjaga segalanya—penjaga halaman, penjaga ketenangan rumah, penjaga dirinya. Kini, tanpa tubuh dan suara, perempuan itu tetap menjaga. Dalam bentuk aroma. Dalam rasa damai. Dalam kehadiran yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa diyakini. Cinta itu tidak mati. Ia hanya berubah bentuk. Anne, istrinya, selalu menjaganya dalam bentuk lain yang memang tak terlihat, tapi ia tau ia selalu ada disana.

Sekilas Hangat, Selamanya Teringat

Sekilas Hangat, Selamanya Teringat Aku akan membuka ini dengan tulisan Mitch Albom dalam Tuesdays With Morie, katanya “Part of the problem, Mitch, is that everyone is in such a hurry.” Manusia selalu ingin berlari kencang, mengejar apa yang terlihat besar dan mewah—rumah, mobil, jabatan, dan sebagainya—untuk kemudian sadar bahwa itu semua hanya omong kosong belaka. Akibatnya kita tidak lagi memperhatikan sekitar dengan baik, mata kita hanya fokus ke depan, mengejar ujung semu yang sejatinya tidak ada ujungnya. Hanyut dalam rutinitas yang itu-itu saja pastinya sangat melelahkan, tak jarang masalah menyapa dengan cengiran menyebalkan, menghilangkan senyum hingga kita akhirnya menggerutu dan mengutuk mengapa hidup harus berjalan seperti tai di hari itu. Akan tetapi, menurutku, tidak ada hari yang sepenuhnya baik, begitupun sebaliknya, tidak ada hari yang sepenuhnya buruk. Mereka akan berjalan berdampingan dengan porsi yang sudah pada takarannya masing-masing. Entah sadar atau tidak kepingan itu seperti puzzle yang membentuk manusia menjadi insan yang utuh. Hari itu, ditahun aku masih memakai seragam, aku pulang dari sekolah dengan perasaan yang benar-benar buruk seolah persoalan dunia yang berat dan besar menempel di atas pundakku. Sore itu, aku turun dari angkutan umum yang biasa aku tumpangi sepulang sekolah di sebuah halte bus atau sering disebut tranek yang terletak dipinggir jalan raya. Aku harus menyeberang jalan untuk bisa naik kendaraan berikutnya yaitu ojek pengkolan yang akan mengantarkanku ke rumah. Tapi entah kenapa hari itu jalanan terlihat sangat ramai dengan kendaraan yang melaju kencang seakan-akan dikejar setan. Aku menciut, mengeluh dalam hati bagaimana caranya menyelip di antara kendaraan yang silih berganti. Tenagaku sudah tak bersisa, tertinggal di sekolah dalam ruangan osis yang berantakan dengan tumpukan masalah yang menggunung. Aku pasrah… berniat menunggu jalan sedikit sepi. Tak berselang lama seorang wanita tua terlihat baru saja turun dari angkutan umum, berdiri tak jauh dari tempat aku menunggu. Aku melihat sepasang kaki mendekat, kemudian berdiri tepat di sampingku. Dengan tatapan lembut dan suara pelan ia berbicara kepadaku, “Ayo, sama nenek aja.” Tangannya terulur menawarkan rasa aman yang tak diminta, tapi sangat aku butuhkan. Aku menyambut tangannya sambil membalas senyuman itu—senyum pertamaku di hari ini. Sampai di seberang aku mengucapkan banyak terima kasih dan menyalami nenek itu dengan lembut sebelum ia melangkah pergi. Aku memandangi punggung yang agak sedikit bungkuk itu menjauh, tersenyum haru, kemudian aku ikut melangkah pergi. Nenek itu tak hanya membantuku menyeberang jalan sore itu—ia menyeberangkanku keluar dari hari yang kelabu. Dalam genggaman tangannya, aku merasa seolah beban di pundakku ikut disederhanakan. Mungkin baginya, itu hanya uluran tangan biasa… tapi bagiku, tidak sesederhana itu. Aku percaya hidup yang sedang kita jalani dibentuk oleh serangkaian peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi setiap harinya. Namun, dalam prosesnya kita seringkali lupa untuk memaknai hal yang tampak sederhana. Padahal berjalan perlahan akan membantu kita menyadari dan memahami banyak hal. Aku juga percaya akan datang waktu dimana saat kamu merasakan sepanjang hari berat dan berantakan, tapi akhirnya kamu menemukan cahaya kecil dipenghujung waktu yang menyelatkanmu dari kegilaan di hari itu. Mungkin bagi orang lain cahaya itu hanya titik kecil—tidak kelihatan, tapi bagimu yang terperangkap dalam ruangan gelap gulita, titik kecil itu menuntun kamu untuk menemukan jalan pulang dan kembali hidup. Karena memang, mungkin bagi mereka tidak berarti apa-apa, tapi bagimu itu adalah sesuatu yang besar.