divaluna fla

Sekilas Hangat, Selamanya Teringat

Aku akan membuka ini dengan tulisan Mitch Albom dalam Tuesdays With Morie, katanya “Part of the problem, Mitch, is that everyone is in such a hurry.” Manusia selalu ingin berlari kencang, mengejar apa yang terlihat besar dan mewah—rumah, mobil, jabatan, dan sebagainya—untuk kemudian sadar bahwa itu semua hanya omong kosong belaka. Akibatnya kita tidak lagi memperhatikan sekitar dengan baik, mata kita hanya fokus ke depan, mengejar ujung semu yang sejatinya tidak ada ujungnya.

Hanyut dalam rutinitas yang itu-itu saja pastinya sangat melelahkan, tak jarang masalah menyapa dengan cengiran menyebalkan, menghilangkan senyum hingga kita akhirnya menggerutu dan mengutuk mengapa hidup harus berjalan seperti tai di hari itu. Akan tetapi, menurutku, tidak ada hari yang sepenuhnya baik, begitupun sebaliknya, tidak ada hari yang sepenuhnya buruk. Mereka akan berjalan berdampingan dengan porsi yang sudah pada takarannya masing-masing. Entah sadar atau tidak kepingan itu seperti puzzle yang membentuk manusia menjadi insan yang utuh.

Hari itu, ditahun aku masih memakai seragam, aku pulang dari sekolah dengan perasaan yang benar-benar buruk seolah persoalan dunia yang berat dan besar menempel di atas pundakku. Sore itu, aku turun dari angkutan umum yang biasa aku tumpangi sepulang sekolah di sebuah halte bus atau sering disebut tranek yang terletak dipinggir jalan raya. Aku harus menyeberang jalan untuk bisa naik kendaraan berikutnya yaitu ojek pengkolan yang akan mengantarkanku ke rumah. Tapi entah kenapa hari itu jalanan terlihat sangat ramai dengan kendaraan yang melaju kencang seakan-akan dikejar setan. Aku menciut, mengeluh dalam hati bagaimana caranya menyelip di antara kendaraan yang silih berganti. Tenagaku sudah tak bersisa, tertinggal di sekolah dalam ruangan osis yang berantakan dengan tumpukan masalah yang menggunung. Aku pasrah… berniat menunggu jalan sedikit sepi. Tak berselang lama seorang wanita tua terlihat baru saja turun dari angkutan umum, berdiri tak jauh dari tempat aku menunggu. Aku melihat sepasang kaki mendekat, kemudian berdiri tepat di sampingku. Dengan tatapan lembut dan suara pelan ia berbicara kepadaku, “Ayo, sama nenek aja.” Tangannya terulur menawarkan rasa aman yang tak diminta, tapi sangat aku butuhkan. Aku menyambut tangannya sambil membalas senyuman itu—senyum pertamaku di hari ini. Sampai di seberang aku mengucapkan banyak terima kasih dan menyalami nenek itu dengan lembut sebelum ia melangkah pergi. Aku memandangi punggung yang agak sedikit bungkuk itu menjauh, tersenyum haru, kemudian aku ikut melangkah pergi. Nenek itu tak hanya membantuku menyeberang jalan sore itu—ia menyeberangkanku keluar dari hari yang kelabu. Dalam genggaman tangannya, aku merasa seolah beban di pundakku ikut disederhanakan. Mungkin baginya, itu hanya uluran tangan biasa… tapi bagiku, tidak sesederhana itu.

Aku percaya hidup yang sedang kita jalani dibentuk oleh serangkaian peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi setiap harinya. Namun, dalam prosesnya kita seringkali lupa untuk memaknai hal yang tampak sederhana. Padahal berjalan perlahan akan membantu kita menyadari dan memahami banyak hal. Aku juga percaya akan datang waktu dimana saat kamu merasakan sepanjang hari berat dan berantakan, tapi akhirnya kamu menemukan cahaya kecil dipenghujung waktu yang menyelatkanmu dari kegilaan di hari itu. Mungkin bagi orang lain cahaya itu hanya titik kecil—tidak kelihatan, tapi bagimu yang terperangkap dalam ruangan gelap gulita, titik kecil itu menuntun kamu untuk menemukan jalan pulang dan kembali hidup. Karena memang, mungkin bagi mereka tidak berarti apa-apa, tapi bagimu itu adalah sesuatu yang besar.