Semua Ikan di Langit
Semua Ikan di Langit by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie Tentang mencintai tanpa harus sepenuhnya mengerti Menurutku, Semua Ikan di Langit bukan buku yang harus dibaca dengan niat “memahami”. Buku ini lebih cocok dibaca sambil membiarkan perasaan kita bekerja. Ada banyak bagian yang tidak memberi penjelasan, dan justru di situlah aku merasa buku ini bekerja paling kuat. Tokoh “Beliau” hadir tanpa identitas yang jelas. Tidak ada nama, tidak ada wujud, tidak ada penjelasan pasti. Awalnya ini terasa membingungkan, tapi lama-lama aku menyadari: mungkin memang tidak semua hal perlu diberi nama. Mungkin ada hubungan-hubungan tertentu yang cukup dijalani dengan mengingat dan mencintai, tanpa perlu tahu segalanya. Dari buku ini aku merasa diingatkan bahwa Tuhan menyayangi manusia jauh sebelum manusia itu sendiri ada. Bahwa ketika kita mengingat-Nya—dalam bentuk apa pun—Dia akan mengingat kita dengan cara yang jauh lebih besar. Kebahagiaan yang digambarkan di buku ini bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi seperti cahaya kecil yang perlahan mengisi ruang kosong di dalam diri. Bagian yang paling membekas buatku adalah ketika buku ini seolah berkata bahwa Tuhan tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana kita menyebut-Nya. Nama, sebutan, bahkan cara kita mendekat, bukan hal utama. Yang paling penting adalah rasa cinta itu sendiri. Aku jadi berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari cara paling benar untuk mencintai Tuhan, sampai lupa merasakan cintanya itu sendiri. Ketidakhadiran Tuhan dalam wujud nyata juga digambarkan bukan sebagai jarak, melainkan perlindungan. Menurutku ini pemikiran yang sangat manusiawi. Jika Tuhan benar-benar menampakkan diri, manusia tidak akan sanggup. Kita akan bingung, takut, mungkin bahkan hancur. Maka, diam dan jarak itu justru adalah bentuk kasih sayang. Buku ini juga berbicara tentang kehilangan dengan cara yang jujur dan menyakitkan. Kehilangan digambarkan sebagai rasa sakit yang melumpuhkan, membuat napas terasa berat, dan tubuh sulit bergerak. Tidak ada usaha untuk memperindah luka. Dan justru karena itu, aku merasa perasaan kehilangan di buku ini terasa sangat nyata. Setelah membaca Semua Ikan di Langit, aku tidak merasa menjadi lebih paham tentang Tuhan, hidup, atau kehilangan. Tapi aku merasa menjadi lebih tenang. Buku ini tidak memberi jawaban, hanya menemani. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.