
Aku tau saat ini tapak kaki tanpa alas itu sedang melangkah menuju sebuah tempat yang menelan cahaya , melenyapkan bayang-bayang. Mengerikan. Seperti nyanyian putri duyung yang memikat nelayan sehingga rela dipeluk lautan dalam, persis seperti itulah kamu menyihirku dengan tatapan ke dua bola matamu yang entah sejak kapan tampak begitu hitam legam.
Akan tetapi, setelah menelusuri jauh ke dasar ingatanku, dahulu tempat itu hangat dan menyenangkan, membuatku berani meletakkan mimpi-mimpi yang selama ini tidak pernah aku suarakan. Namun, bodohnya aku sempat percaya itu akan berlangsung selamanya.
Aku lupa manusia bukan tempat yang tepat untuk digantungkan harapan apalagi kehidupan — semenyenangkan apapun Dia.
Perlahan perubahan itu datang memporak-porandakan juga menenggelamkan seluruh kehidupan serta jiwa pemilik kaki tanpa alas yang kini malah kembali berjalan menuju tempat di mana Ia pernah mati-matian menyelamatkan diri dari sana — pusaran yang merenggut semua yang Ia punya.
Aku ingin kembali percaya pada suara yang diantarkan angin dari balik pekatnya bola mata itu bahwa pemiliknya masih ada di sana.
Perjudian itu kembali dilakukan meskipun Ia tau ujungnya tubuh ini akan terbujur kalah di meja perjudian sambil dikelilingi tawa mereka yang menjadikannya semakin menyedihkan.
Tidak ada harapan sama sekali, namun satu hal yang selalu aku tau, alasannya hanya ‘karena itu kamu.’
Ditulis pada Februari 2026.
divalunafla.