Tujuh hari berlalu sejak sosok itu pergi. Waktu berjalan merangkak di rumah tua yang terletak jauh di dalam hutan. Halaman luas dengan taman bunga yang dahulunya dihiasi percakapan hangat kini tampak suram dengan daun kering dimana-mana. Aroma kesedihan tercium pekat, mengambang, membungkus sore yang tak pernah absen berkunjung. Di teras rumah, duduk seorang pria tua, Pram namanya, pada sebuah kursi goyang yang bergerak lambat. Punggungnya tak lagi tegap dan matanya tampak sayu menyiratkan kehilangan yang mendalam. Pram menghela nafas berat memperhatikan sekitar. Sejuta kenangan akhir-akhir ini dengan kejam menghujaninya, tanpa henti, membuatnya sesak. Perlahan mata tua itu terhenti pada sebuah kotak lebah yang berdiri membisu di bawah pohon mangga di pojok kebun yang mulai berantakan. Samar ingatannya kembali pada sore-sore hangat beberapa bulan lalu, saat Ia dan Anne— istrinya—memanen sisir madu bersama. Disela kegiatan mereka ada lelucon dan candaan garing yang dilontarkan Pram, anehnya itu selalu berhasil membuat istrinya tertawa bahkan tersenyum malu-malu sambil mencubit perut Pram pelan. Bayangan wajah Anne lagi-lagi terputar di kepala, menciptakan embun yang bergelantung disudut mata. Pria tua itu pelan memejamkan mata, embun itu luruh membasahi pipi yang telah renta dimakan waktu.
Dalam keheningan dan mata yang masih terpejam, samar terdengar dengung lebah yang dibawa oleh semilir angin sore, membisikkan sesuatu yang entah bagaimana terdengar seperti suara seseorang yang sangat Ia rindukan. Lebah-lebah itu menyampaikan sebuah pesan untuknya.
“Hai Pram, ini aku. Kau mengenali suara ku bukan? Atau jangan-jangan Kau sudah lupa?” Suara menyenangkan itu tertawa kecil, bergurau.
“Jangan bersedih, Sayang. Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku di sini, dalam setiap dengung lebah yang kau dengar dan dalam aroma bunga yang kau hirup. Aku hanya berganti wujud— menjadi udara, menjadi cahaya pagi, menjadi aroma yang tak pernah hilang dari rumah ini—tapi percayalah aku selalu memelukmu. Aku akan menjadi penjagamu—tanpa wujud, tanpa suara, tapi selalu ada.”
Air mata membanjiri wajah pria tua itu saat ia membuka mata. Suara yang hangat dan sangat Ia rindukan telah hilang. Ada rasa sesak sekaligus lega yang membuncah tak tertahankan, membuatnya runtuh tapi bangkit disaat yang bersamaan. Ia merasakan kehadirannya sekarang, sepasang tangan yang terlihat memeluknya erat.
Dulu, istrinya adalah penjaga segalanya—penjaga halaman, penjaga ketenangan rumah, penjaga dirinya. Kini, tanpa tubuh dan suara, perempuan itu tetap menjaga. Dalam bentuk aroma. Dalam rasa damai. Dalam kehadiran yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa diyakini. Cinta itu tidak mati. Ia hanya berubah bentuk. Anne, istrinya, selalu menjaganya dalam bentuk lain yang memang tak terlihat, tapi ia tau ia selalu ada disana.